Senin, 02 Juni 2014

ANALISIS PROFIL ORGANISASI BELAJAR DI SALAH SATU PRODI LKPT
Oleh : Eva Betty Simanjuntak

Abstarct
Organisasi itu seperti makhluk hidup , harus beradaptasi dengan perubahan dan tuntutan lingkungan, LPTK (lembaga pendidikan tenaga keguruan )  merupakan organisasi belajar yang menghasilkan guru- guru sebagai suatu organisasi belajar layak untuk dianalisis(diukur) dengan alat pengukur; Profil Oganisasi Belajar(Marquat) adapun tujuan analisis ini untuk mengetahui bagaimana perkembangan serta kendala –kendala apa saja yang sedang dihadapi dan bagaimana mengatasinya .Dari hasil akumulasi perolehan score jumlah 131 dapat diambil kesimpulan bahwa profil organisasi belajar prodi di LPTK pada t.a 2014 masuk pada kategori;3 =applies to a great extent akan tetapi masik banyak kekurangannya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program proatif dan reaktif implementasinya, kemudian mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belajar.
Kata kunci:Profil, Organisasi belajar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya lahir dengan konsep  pengelolaan organisasi yang konvesional, dan tumbuh dalam masyrakat yang berkembang dan berubah sangat pesat, dalam upaya menyesuaikan diri  dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, termaksud  perubahan aspirasi,harga diri, dinamika belajar,dan perubahan lingkungan strategis dalam berbagai dimensi.
Seperti dinosaurus yang telah punah dari muka bumi ini, sebuah organisasi belajar atau prodi pada salah satu LPTK yang terdapat pada sebuah fakultas akan punah (tidak berkembang)atau akan mengalami stagnasi bila prodi tersebut tidak berdaptasi dengan perubahan lingkungan, perubahan tehnologi yang begitu pesat merupakan tantangan yang harus di cermati i.Salah satu penyebab kepunahan itu tidak ada kemampuan bekerja sama untuk menghadapi permsalahan bersama untuk meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan.
Sebagaimana suatu lembaga, untuk meningkatkan efektivitas dan dan efisiensi belajar mengajar dan mengoptimalkan fungsi organsasi belajar perlu didukung dengan sistem pengelolaan yang memadai, yaitu organisasi yang baik, dan tenaga profesional yang mampu mengelola dan mengembangkan sumber-sumber belajar.
Berkaitan dengan pencapaian untuk metode belajar yang baik, seperti yang diuraikan tersebut di atas tergantung kepada organisasi belajar di dalam pendidikan.
Sejak diperkenalkan tahuan 1990an, organisasi belajar berperan membekali organisasi perusahaan dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan. Organisasi belajar sangat diperlukan perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para pelaku organisasi belajar sangat  menyadari pentingnya organisasi belajar pasti membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah yang praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam proses belajar.
Organisasi belajar adalah menurut Peter Senge[1] adalah proses memfasilitasi pembelajaran bagi individu atau group yang dilakukan secara sadar dan bersama-sama dalam mentransformasikan pengelolaan dan penggunaan pengetahuan dalam mencapai tujuan organisasi secara terus menerus sehingga mencapai suatu kapasitas yang semakin luas. Sementara itu, Marquardt[2] menyatakan bahwa organisasi belajar adalah sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan, dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan.
Kedua pendapat tersebut di atas memiliki perbedaan dan persamaan.
Jika Marquardt lebih menitikberatkan pada aspek organisasi belajar sebagai proses, maka Senge lebih menitikberatkan kepada wadah. Hanya saja, Senge lebih fokus kepada proses softskill  Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa organisasi belajar adalah suatu wadah di mana orang-orang secara sadar melakukan proses pembelajaran secara terus menerus atas suatu kemampuan (softskill dan hardskill) untuk menghasilkan dan menggeneralisasikan gagasan baru dengan kuat yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya individu atau kelompok dalam organisasi sehingga tercapai tujuan bersama.
Organisasi belajar sangat diperlukan  di dalam pendidikan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para pelaku pendidikan yang menyadari pentingnya organisasi belajar pasti membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah yang praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam terjadinya proses belajar.
Pada kenyataannya organisasi belajar tersebut masih dipandang terlalu deskriptif dan konseptual, sehingga mengalami kesulitan diterapkan secara aktual dalam praktek belajar di berbagai organisasi belajar. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bahwa organisasi belajar hanya akan menjadi wacana yang sulit dipahami dan direalisasikan dalam praktek sehari-hari, apabila tidak dilakukan redefinisi dan reorientasi konsep dan implementasi terhadap organisasi belajar.
Dalam kesempatan ini akan diketengahkan redefinsi dan strategi organisasi belajar dalam belajar  serta alternatif solusi permasalahan yang dihadapi organisasi belajar saat ini dan mendatang. Pedoman implementasi organisasi belajar yang jelas dalam rangka mengembangkan kapabilitas individual dan meningkatkan kinerja organisasi belajar. Selain itu, peran dan tanggungjawab pemimpin untuk mendukung keberhasilan organisasi belajar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi organisasi belajar secara menyeluruh.
Di dalam prakteknya sering ditemukan penulis adanya kegagalan suatu lembaga pendidikan tingg yaitu yang  tidak dapat menerapkan fungsi dari organisasi belajar sebagai tolak ukur untuk meningkatkan kemampuan dari lembaga pendidikan tersebut.

Untuk menilai keberhasilan dari penerapan organisasi belajar tersebut di atas didasarkan: “Learning Organization Profile”
Yaitu:
1. Dinamika Belajar : Individu,Kelompok/Tim,dan Organisasi
2. Organissai Tranformasi : Visi,Budaya,Strategi dan Struktur
3. Pemeberdayaan Masyarakat: Manager, Karywan, Pelanggan, Mitra,   Pemasok dan Masyarakat
4. Manajemen Pengetahuan : Akuisisi,Penciptaan,Storage,Retrieval,Transfer   dan Pemanfaatan
5. Aplikasi Teknologi : Berupa sistem informasi Pengetahuan,Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Sistem Pendukung Kinerja Elektronik.
       Akan tetapi atas kelima hal tersebutlah tidak dapat diterapkan secara  maksimal di dalam praktek membangun organisasi belajar  berdasarkan analisis skala penilaian dari data salah satu prodi PTN Hal-hal tersebut diataslah yang menjadikan dasar penulis untuk mengkaji dan membahas masalah ini dengan judul : ANALISIS PROFILE ORGANISASI BELAJAR DI SALAH SATU PRODI LPTK  “
B.     Permasalahan
Berkaitan dengan uraian dari latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan di dalam penulisan artikel ini adalah :
“ Bagaimana hasil Analisis Profil Organisasi Belajar salah satu prodi LPTK di Medan ?

BAB II
ANALISIS PROFILE ORGANISASI BELAJAR PRODI DI LPTK

A.    Pembahasan
Berdasarkan judul tersebut di atas, penulis melihat apa yang menjadikan keberhasilan organisasi belajar dapat diperoleh sesuai dengan terpnuhi standar yang ditawarkan olah Marquat dalam Learning Organization Profile  .
Menurut Yusufhadi Miarso [3] mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar. Pertama, dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, melainkan tenaga kerja yang terdidik dengan baik, terlatih dengan baik dan menguasai informasi dengan baik (well educated, well trained, and well informed). Perubahan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan merupakan azas dari organisasi belajar. Kedua, pengembangan organisasi yang lebih berorientasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi. Sejalan dengan gerakan masyarakat informasi (information society), maka organisasi perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara komrehensif. Organisasi memerlukan lebih banyak tenaga kerja berpengetahuan (knowledge worker). Perkembangan ekonomi lebih dilandaskan pada pengetahuan dengan tenaga kerja berpengetahuan sebagai aset paling utama.
Konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, di mana organisasi belajar  membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat diciptakan orang-orang yang berpengetahuan (knowledge pople) dengan kompetensi yang dapat diandalkan. Selain itu dukungan kepemimpinan yang memberdayakan (empowerement), artinya memberikan pendelegasian dan dukungan positif kepada setiap anggota organisasi dalam aktivitas pembelajaran dan memperbaiki kinerja.
Peter Senge mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:[4]

1)      Berpikir Sistem (Systems Thinking)
Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi untuk saling menolong serta berbagi sumber daya demi kemajuan lembaga(prodi)

2)      Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)
Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.

3) Pola Mental (Mental Models)
Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.

4)      Visi Bersama (Shared Vision)
Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.

5) Belajar Beregu (Team Learning)
Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.

Michael Marquardt[5] mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam atau di luar perusahaan untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan baik pembelajaran maupun produktivitas kerja.
Peter Senge menjelaskan, bahwa body of knolwledge secara praktis, adalah disiplin ke lima yang dalam hal ini adalah berpikir sistem (system thinking). Kegagalan dalam organisasi, karena keempat disiplin yang ada dalam organisasi belajar belum terwadahi oleh suatu sistem. Senge dan Marquardt menganggap bahwa setiap orang mempunyai potensi yang tersembunyi yang patut untuk dibangkitkan agar bisa berkembang dan bisa dipergunakan untuk pencapaian tujuan orangisasi yang di dalam termasuk tujuan individu sendiri.
Oleh karena itu, dalam sebuah organisasi diperlukan adanya sebuah kepemimpinan (leadership). Leadership yang digunakan dalam organisasi belajar itu adalah bukanlah orang yang dominan dalam organsasi, tetapi bagaimana dia bisa menganggap orang dalam sebuah organisasi sebagai colega, tidak ada yang menonjol sendiri-sendiri, tidak unik yang melebihi dari orang lain yang dapat berpikir sistem. Dalam konteks ini, maka pemimpin menurut Senge,[6] adalah sebagai designer, sebagai stewardess (pelayan), teacher, dan kepemimpinan bersama (share leadership) setiap orang bisa dilatih sebagai pemimpin.
Jika sudah dilatih sebagai pemimpin, setiap orang menjadi pemimpin dan memiliki waktu, maka orang tersebut akan menunjukkan kemampuannya. Hal ini dapat dianalogikan seperti filosofi Burung Angsa (geese) membentuk huruf V dalam bermigrasi ke suatu tempat. Siapapun di depan atau di belakang semua konsistem ke tujuannya. Regenerasi kepemimpinan berjalan dengan baik, berjalan demikratis, kolegial.
Oleh Marquardt[7], organisasi belajar adalah bukan where tetapi which…learn powerfully…., melihat dari sudut pandang proses… Sehingga organisasi belajar memberdayakan orang-orang baik di dalam maupun di luar organisasi sambil bekerja. Marquardt lebih mengarahkan model belajar oragisasi. Karakteristik organisasi belajar menurut  Marquardt, adalah: 1) belajar semua dan terus menerus; 2) berpikir sistem; 3) akses informasi; 4) budaya kelembagaan positif; 5) aspirasi dan koseptualisasi bersama; dan 6) menyesuaikan, memperbaharui dan meningkatkan diri.
Organisasi belajar mulai belajar dari TOP pimpinan TOP-DOWN. Setiap orang perlu belajar dari Organisasi Belajar, sehingga diperlukan belajar dalam kelompok-kelompok yang belajar secara sistematis. Jika hanya individunya saja yang belajar tetapi tidak ada belajar secara kelompok, maka dipastikan bukanlah sebagai organisasi belajar. Organisasi belajar dapat digambarkan sebagai berikut: individu → kelompok → organisasi terus-menerus.
Marquardt[8] menyebutkan apa yang dikatakannya dengan Deutero Learning, yaitu belajar dan mengetahui apa yang perlu dipelajari. Jika semua belajar secara terus menerus maka akan terjadi belajar sepanjang hayat (life long learning), maka organisasi tersebut akan substain, bertahan, berkembang dan bersaing. Berpikir sistem menurut Marquardt bertujuan untuk menghilangkan egosentris, tidak ada yang menonjol. Pandangan ini tentu saja lebih luas lagi dari apa yang diungkapkan Senge.
Dengan memperluas akses Informasi setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi-informasi, terbuka, open management, karena informasi sangat penting maka jaringan informasi sangat penting dalam organisasi belajar. Budaya Kelembagaan yang positif → budaya berangkat dari prilaku menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi budaya. Iklim organisasi akan sehat jika budayanya sehat dan positif. Misalkan karir berdasarkan Merit Sistem → karir berdasarkan prestasi dan kemampuan. Aspirasi dan konseptualisasi bersama → setiap orang bebas mengemukakan asprisasinya. Setiapa orang dalam organisasi selalu berpikir untuk lebih baik dari hari ke hari, terjadi jika ia belajar → model belajar.
Hal yang penting dalam membangun organisasi belajar adalah komitmen bersama menjadi organisasi belajar. Dalam hal ini harus mendorong birokarasi dan merampingkan struktur. Birokrasi à terkait dengan tugas dalam fungsi, tatakelola organisasi belajar secara baik. Birokrasi tidak bagus jika terjadi disfungsi sehingga tujuan tidak tercapai. Mendorong birokrasi menjadi selayaknya dan merampingkan struktur artinya mengarahkan flat organisasi bukan tall organisasi, ahli dan mengetahui apa yang dikerjakan. Hal yang penting adalah kooerdinasi dan monitoring.
Empowering → Memberikan pengetahuan, kemampuan dan kesempatan belajar lebih lanjut dan  memfasilitasi, memberikan sumberdaya lain dalam memberdayakan skill yang dimiliki, dan memberikan reward. Reward dalam hal ini tidak dalam bentuk uang financial atau materi semata, tetapi idelaisme juga bisa dianggap reward. Dalam konteks ini, maka pemimpin tidak harus lebih pintar dari anggota organisasinya. Masing-masing organisasi memiliki nilai (value) dan ada kode etik dalam setiap organisasi dan harus taat dengan kode etik tersebut. Jika tidak menjaga komitmen, maka mereka telah melanggar kesepakatan. Tujuan adanya kode etik agar organisisi tersebut mampu bersaing, dan berkembang serta survive.
Tujuan keberhasilan transpormasi untuk menjadi organisasi belajar, adalah: 1) Membangun keinginan/kebutuhan kuat menjadi organisasi belajar; 2) Membentuk koalisi yang kuat mendorong organisasi belajar bersinergi, memadukan kesamaan antar organisasi diibaratkan seperti diagram venn (irisan) menggabungkan  kesamaan didalam perbedaan untuk menghasilkan kekuatan baru (added value); 3) Merumuskan visi organisasi belajar; 4) Mengemunikasikan dan mewujudkan visi; 5) Menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi usaha-usaha mewujudkan visi baru organisasi belajar (birokrasi, persaingan, kontrol, komunikasi, kepemimpinan, hirarki). Jika birokrasi menghabat organisasi belajar maka birokrasi yang diperbaiki, persaingan yang sehat, kontrol → tanggung jawab, komunikasi → komunikasi yang tidak bertanggungjawab (gosip), hierarki pembagian tugas dan tanggung jawab; 6) Menciptakan hasil-hasil jangka pendek; 7) Mengonsolidasikan kemajuan yang diperoleh dan dorong untuk terus maju; 8) Menanamkan perubahan dalam budaya organisasi.
Yang bisa dipelajari dalam organisasi, menurut Marquardt, , yaitu belajar berkomunikasi secara terstruktur.[9]
 Dengan demikian hasil yang dicapai oleh suatu organisasi belajar (OB) dapat menjadi tolak ukur maju mundurnya suatu prodi dalam mencapai Visi ,Misi, Tujuan serta Sasaran dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai dengan tuntutan tiga pilar perguruan tinggi yaitu :1.Pendidikan dan pengajaran 2.Penelitian dan pengembangan, 3.Pengabdian kepada masyarakat,hal tersebut dapat dianalisis dari, Learning Organization Profile di  Salah satu Prodi  LPTK.  .
1.Pertanyaan yang ada dalam alat ukur ini menggambarkan Dinamika Belajar secara individu,kelompok/tim,dan organisasi dari fakta dilapangan perolehan hanya 25 yang seharusnya total skrons 40 artinya keharusan kedinamisan organisasi dipikirkan setiap individu tidak pernah puas dengan pengetahuan yang  dimilikinya sekarang ya  belum memadai  untuk dirinya, kepuasan pelanggan dan tuntuntan stakeholder, jangan kita merasa nyamam karena PTN perubahan begitu cepat terjadi perkembangan thenoklogi dan komunikasi yang begitu pesat akibat dari tuntutan lingkungan. Diharapkan dinamika belajar dari individu,tim dan organisasi memiliki kerendahan hati mau belajar terus menerus dengan berpedoman pada;system thinking,mental model, personal mastery, self – directeddan dialogue learning.
Pada organisasi tranformasi : Visi,Budaya,Strategi dan Struktur
Perolehan score 23 sebenarnya ada kesalahan didalam penyampaian saat perkuliahan mohon maaf sebelumnya Prof. Jika diamati berdasarkan data perolehan organisasi transformasi pada aspek visi, pada saat merumuskan hanya  melibatkan beberapa tenaga pengajar bahkan ada anggota organisasi yang tidak mengetahui visi dimana dia bekerja tentu saja ini sangat ironis yang seharusnya menurut Marquat”stage holder,manager, pegawai disemua tingkatan , tenaga pengajar, pelanggan didesah  untuk terlibat mengembangkan visi”,sama pentingya dengan budaya organisasi yang ditandai dengan sejumlah nilai –nilai yang mendorong organisasi menaiki tangga belajar dan harus mampu memilki strutur organisasi yang memiliki karateristik strutural organisasi belajar yang menunjukankan flesibilitas, keterbukaan, kesempatan mengembangkan karir sehinga memungkinkan harus dengan strategi organisasi untuk mengubah menjadi organisasi belajar.
Score pemeberdayaan masyarakat manager, karywan, pelanggan, mitra pemasok dan masyarakat  tidak jauh beda dengan aspek yang lain yakni 24. Organisasi belajar ini relatif memiliki jumlah mahasiswa cukup banyak  dibanding prodi lain dalam satu fakultas namum trik bagaimana untuk kerja sama untuk memajukan lembaga dengan adanya pemberdayaan pegawai agar mempercepat dan memperlancar pekerjaan masik kurang,di tingkat prodi tangguh jawab ketua sudah baik namum kendala memberi peluang untuk memdapat informasi baru hal ini belum memuaskan dari atasan tingkat fakultas  
Untuk berbagi penggetahuaan dengan pelanggan di dalam masik kurang apalagi keluar organisasi masik belum ada jalinan kerja secara aktif mencari kerja sama dengan mitra tetapi lewat individu ada beberapa staf pengajar yang melaksanakannya.
Score manajemen pengetahuan 24 tidak jauh berbeda dengan aspek yang lainnya manajemen pengetahuan meliputi :Akuisisi,Penciptaan,Storage,Retrieval,Transfer danPemanhfaatan
Organisasi harus belajar tahu bagaimana mengelola mekanisme pengetahuan dari tingkat fakultas, prodi dan staf pegawai agar pelayanan pokok terhadap mahasiswa yang berupa salah satu pelanggan organisasi diberikan pelayanan akademik yang bermutu sesuai hasil skala penilaian masik banyak yang harus di perbaiki seperti berpikir kreatif. Aktif mencari informasi, selalu menciptan cara –cara baru /strategi yang inovatif serta berbagi pengetahuan dengan departemen ,dinas. Masik banyak tenaga akademik belum memanfaatkan akses internet sebagaii media komunikasi. 
 Skala pengukuran yang terakhir adalah, aplikasi teknologi : Berupa sistem informasi  pengetahuan,Pembelajaran berbasis teknologi dan sistem pendukung Kinerja Elektroni hal ini mendapat score yang tertinggi 34 hanya satu aspek yang memperoleh score  1 yakni menatalaksanakan proses-proses kelompok dan score 2 untuk pernyataan nomor 6 yakni mengintergrasikan systim tehnologi, pelatihan, kerja aktual dalam sebuah proses tunggal
Pada akumulasi perolehan score menghasilkan grand total for five subsystem adalah 131 maximum score :200. Bila menggunakan 4(empat) interval kelas, maka angka tersebut pada tingkat katagori baik.Namum bila dilihat lebih spesifik, maka angka tersebut masuk pada tingkat Lower Highest.
Dari perolehan jumlah score di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Profil Organisasi Belajar (learning organization profile) di prodi LPTK masuk pada tingkat kualitas kategori 3 = applies to grea extent hal ini sangat perlu di waspadai untuk meningkatkan kinerja menuju lembaga organisasi belajar yang bermutu.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam rangka mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangannya secara terintegrasi diperlukan analisis kebutuhan organisasi belajar antara lain apa  yang dibutuhkan organisasi belajar, siapa yang membutuhkan, kompetensi apa yang ingin dicapai serta bagaimana mengukur keberhasilan organisasi belajar. Hasil analisis  profil organisasi belajar Prodi di LPTK Pada akumulasi perolehan score menghasilkan grand total for five subsystem adalah 131 maximum score :200. Bila menggunakan 4(empat) interval kelas, maka angka tersebut pada tingkat katagori baik.Namum bila dilihat lebih spesifik, maka angka tersebut masuk pada tingkat Lower Highest
Berdasarkan  perolehan data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa profil organisasi belajar prodi di LPTK pada t.a masuk pada kategori;3 =applies to a great extent akan tetapi masik banyak kekurangannya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program proatif dan reaktif implementasinya, kemudian mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belajar.
Peran dan tanggungjawab pemimpin menjadi kunci keberhasilan bagi implementasi organisasi belajar dalam keberhasilan belajar. Pada dasarnya belajar merupakan tanggungjawab semua pihak, tetapi pemimpin dapat memberikan bantuan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong pembelajaran bagi organisasi belajar.

B.     Saran
Saling memperkuat upaya menciptakan organisasi yang senantiasa belajar bersama dalam meningkatkan kinerja individu dan kelompok untuk mewujudkan tujuan organisasi. Sehingga organisasi selalu siap menghadapi segala tantangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungannya, bahkan mampu mengantisipasi kemungkinan perubahan yang akan terjadi. Kemampuan ini akan membuat organisasi semakin tangguh dan selalu berkembang, serta mampu bersaing dalam segala situasi

DAFTAR PUSTAKA

Marquardt, Michael J.  Building The Learning Organization. Palo Alto CA: Davies-Black Publishing, Inc.2002
Senge, Peter M.  The Fifh Discipline The Art and Practice of The Learning Organizatin. New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc.1994
Yusufhadi Miarso, Peran Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar, Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran, Jakarta, 2002
Zainuddin, Pedoman Sertifikasi Pendidik Bagi Dosen 2010, Bumi Aksara,Jakarta,2010




[1] Senge, Peter M.  The Fifh Discipline The Art and Practice of The Learning Organizatin. New York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc.1994
[2] Marquardt, Michael J.  Building The Learning Organization. Palo Alto CA: Davies-Black Publishing, Inc.2002
[3] Yusufhadi Miarso, Peran Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar, Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran, Jakarta, 2002

[4] Senge, Peter ,Op.Cit
[5] Marquardt, Michael J,Op.Cit
[6] Senge, Peter ,Op.Cit
[7] Marquardt, Michael J,Op.Cit
[8] ibid
[9] ibid