ANALISIS PROFIL
ORGANISASI BELAJAR DI SALAH SATU PRODI LKPT
Oleh : Eva Betty Simanjuntak
Abstarct
Organisasi itu
seperti makhluk hidup , harus beradaptasi dengan perubahan dan tuntutan lingkungan,
LPTK (lembaga pendidikan tenaga keguruan ) merupakan organisasi belajar yang menghasilkan
guru- guru sebagai suatu organisasi belajar layak untuk dianalisis(diukur) dengan
alat pengukur; Profil Oganisasi Belajar(Marquat) adapun tujuan analisis ini untuk
mengetahui bagaimana perkembangan serta kendala –kendala apa saja yang sedang dihadapi
dan bagaimana mengatasinya .Dari hasil akumulasi perolehan score jumlah 131
dapat diambil kesimpulan bahwa profil organisasi belajar prodi di LPTK pada t.a
2014 masuk pada kategori;3 =applies to a
great extent akan tetapi masik banyak kekurangannya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun
program-program proatif dan reaktif implementasinya, kemudian mengukur tingkat
keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belajar.
Kata kunci:Profil,
Organisasi belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Perguruan
tinggi di Indonesia pada umumnya lahir dengan konsep pengelolaan organisasi yang konvesional, dan
tumbuh dalam masyrakat yang berkembang dan berubah sangat pesat, dalam upaya
menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi di masyarakat, termaksud
perubahan aspirasi,harga diri, dinamika belajar,dan perubahan lingkungan
strategis dalam berbagai dimensi.
Seperti
dinosaurus yang telah punah dari muka bumi ini, sebuah organisasi belajar atau
prodi pada salah satu LPTK yang terdapat pada sebuah fakultas akan punah (tidak
berkembang)atau akan mengalami stagnasi bila prodi tersebut tidak berdaptasi
dengan perubahan lingkungan, perubahan tehnologi yang begitu pesat merupakan
tantangan yang harus di cermati i.Salah satu penyebab kepunahan itu tidak ada
kemampuan bekerja sama untuk menghadapi permsalahan bersama untuk meningkatkan
pelayanan terhadap pelanggan.
Sebagaimana suatu lembaga, untuk
meningkatkan efektivitas dan dan efisiensi belajar mengajar dan mengoptimalkan
fungsi organsasi belajar perlu didukung dengan sistem pengelolaan yang memadai,
yaitu organisasi yang baik, dan tenaga profesional yang mampu mengelola dan
mengembangkan sumber-sumber belajar.
Berkaitan dengan pencapaian untuk metode
belajar yang baik, seperti yang diuraikan tersebut di atas tergantung kepada
organisasi belajar di dalam pendidikan.
Sejak diperkenalkan tahuan 1990an,
organisasi belajar berperan membekali organisasi perusahaan dengan basis
pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan. Organisasi belajar sangat
diperlukan perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang
sangat cepat. Bagi para pelaku organisasi belajar sangat menyadari pentingnya organisasi belajar pasti
membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah yang praktis untuk
merealisasikan organisasi belajar dalam proses belajar.
Organisasi belajar adalah menurut Peter
Senge[1] adalah proses
memfasilitasi pembelajaran bagi individu atau group yang dilakukan secara sadar
dan bersama-sama dalam mentransformasikan pengelolaan dan penggunaan
pengetahuan dalam mencapai tujuan organisasi secara terus menerus sehingga
mencapai suatu kapasitas yang semakin luas. Sementara itu, Marquardt[2] menyatakan bahwa
organisasi belajar adalah sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif
dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan,
pengelolaan, dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan
perusahaan.
Kedua pendapat tersebut di atas memiliki
perbedaan dan persamaan.
Jika Marquardt lebih
menitikberatkan pada aspek organisasi belajar sebagai proses, maka Senge lebih
menitikberatkan kepada wadah. Hanya saja, Senge lebih fokus kepada proses softskill Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa organisasi belajar adalah suatu wadah di mana
orang-orang secara sadar melakukan proses pembelajaran secara terus menerus
atas suatu kemampuan (softskill dan
hardskill) untuk menghasilkan dan menggeneralisasikan gagasan baru dengan
kuat yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya individu atau kelompok
dalam organisasi sehingga tercapai tujuan bersama.
Organisasi belajar sangat diperlukan di dalam pendidikan terutama dalam menghadapi
perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para pelaku pendidikan yang
menyadari pentingnya organisasi belajar pasti membutuhkan pedoman yang jelas
dan langkah-langkah yang praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam terjadinya
proses belajar.
Pada kenyataannya organisasi belajar tersebut masih
dipandang terlalu deskriptif dan konseptual, sehingga mengalami kesulitan
diterapkan secara aktual dalam praktek belajar di berbagai organisasi belajar.
Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bahwa organisasi belajar hanya akan
menjadi wacana yang sulit dipahami dan direalisasikan dalam praktek
sehari-hari, apabila tidak dilakukan redefinisi dan reorientasi konsep dan
implementasi terhadap organisasi belajar.
Dalam kesempatan ini akan diketengahkan redefinsi dan strategi
organisasi belajar dalam belajar serta
alternatif solusi permasalahan yang dihadapi organisasi belajar saat ini dan
mendatang. Pedoman implementasi organisasi belajar yang jelas dalam rangka
mengembangkan kapabilitas individual dan meningkatkan kinerja organisasi
belajar. Selain itu, peran dan tanggungjawab pemimpin untuk mendukung
keberhasilan organisasi belajar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi
organisasi belajar secara menyeluruh.
Di dalam prakteknya sering ditemukan penulis adanya kegagalan
suatu lembaga pendidikan tingg yaitu yang tidak dapat menerapkan fungsi dari organisasi
belajar sebagai tolak ukur untuk meningkatkan kemampuan dari lembaga pendidikan
tersebut.
Untuk menilai keberhasilan dari
penerapan organisasi belajar tersebut di atas didasarkan: “Learning Organization Profile”
Yaitu:
1. Dinamika Belajar :
Individu,Kelompok/Tim,dan Organisasi
2. Organissai Tranformasi :
Visi,Budaya,Strategi dan Struktur
3. Pemeberdayaan Masyarakat: Manager, Karywan, Pelanggan,
Mitra, Pemasok dan Masyarakat
4. Manajemen Pengetahuan :
Akuisisi,Penciptaan,Storage,Retrieval,Transfer dan Pemanfaatan
5. Aplikasi Teknologi : Berupa
sistem informasi Pengetahuan,Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Sistem Pendukung Kinerja Elektronik.
Akan tetapi atas
kelima hal tersebutlah tidak dapat diterapkan secara maksimal di dalam praktek membangun organisasi belajar berdasarkan analisis skala penilaian dari
data salah satu prodi PTN
Hal-hal tersebut diataslah yang menjadikan dasar penulis untuk mengkaji dan
membahas masalah ini dengan judul : ANALISIS PROFILE ORGANISASI
BELAJAR DI SALAH SATU PRODI LPTK “
B.
Permasalahan
Berkaitan dengan uraian dari latar belakang tersebut di
atas, maka yang menjadi permasalahan di dalam penulisan artikel ini adalah :
“ Bagaimana hasil Analisis Profil Organisasi Belajar salah
satu prodi LPTK di Medan ?
BAB II
ANALISIS PROFILE ORGANISASI
BELAJAR PRODI DI LPTK
A.
Pembahasan
Berdasarkan judul tersebut di atas, penulis melihat apa yang
menjadikan keberhasilan organisasi belajar dapat diperoleh sesuai dengan
terpnuhi standar yang ditawarkan olah Marquat dalam Learning Organization Profile .
Menurut Yusufhadi Miarso [3]
mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar. Pertama, dalam rangka pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja
yang banyak dan murah, melainkan tenaga kerja yang terdidik dengan baik,
terlatih dengan baik dan menguasai informasi dengan baik (well educated,
well trained, and well informed). Perubahan organisasi untuk menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan merupakan azas dari organisasi belajar. Kedua, pengembangan organisasi yang lebih
berorientasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi. Sejalan dengan
gerakan masyarakat informasi (information society), maka organisasi
perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara komrehensif. Organisasi
memerlukan lebih banyak tenaga kerja berpengetahuan (knowledge worker).
Perkembangan ekonomi lebih dilandaskan pada pengetahuan dengan tenaga kerja
berpengetahuan sebagai aset paling utama.
Konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan
lingkungan dan daya saing, di mana organisasi belajar membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk
mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan
lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat diciptakan
orang-orang yang berpengetahuan (knowledge pople) dengan kompetensi
yang dapat diandalkan. Selain itu dukungan kepemimpinan yang memberdayakan (empowerement),
artinya memberikan pendelegasian dan dukungan positif kepada setiap anggota
organisasi dalam aktivitas pembelajaran dan memperbaiki kinerja.
Peter Senge mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai
suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam
organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:[4]
1) Berpikir
Sistem (Systems Thinking)
Setiap usaha
manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian
dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan
itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola
perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia
saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi untuk saling
menolong serta berbagi sumber daya demi kemajuan lembaga(prodi)
2) Penguasaan
Pribadi (Personal Mastery)
Setiap orang harus
mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi
perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan
suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa
mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan
kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa
seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah
merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena
itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk
organisasi belajar.
3) Pola Mental (Mental Models)
Setiap orang
mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan
bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu.
Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan
tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara
reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia
sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.
4)
Visi Bersama (Shared Vision)
Organisasi yang
berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan
perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki
bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi
melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah
komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan
terhadap pimpinan.
5) Belajar Beregu (Team
Learning)
Dalam suatu regu
atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh
lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya.
Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati
dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola
interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan
unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama
dalam organisasi.
Michael Marquardt[5]
mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara
kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada
pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi
keberhasilan perusahaan. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam
atau di luar perusahaan untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi
untuk mengoptimalkan baik pembelajaran maupun produktivitas kerja.
Peter
Senge menjelaskan, bahwa body of knolwledge secara
praktis, adalah disiplin ke lima yang dalam hal ini adalah berpikir sistem (system thinking). Kegagalan dalam organisasi, karena
keempat disiplin yang ada dalam organisasi belajar belum terwadahi oleh suatu
sistem. Senge dan Marquardt menganggap bahwa setiap orang mempunyai potensi
yang tersembunyi yang patut untuk dibangkitkan agar bisa berkembang dan bisa
dipergunakan untuk pencapaian tujuan orangisasi yang di dalam termasuk tujuan
individu sendiri.
Oleh karena itu, dalam sebuah organisasi diperlukan adanya
sebuah kepemimpinan (leadership). Leadership yang
digunakan dalam organisasi belajar itu adalah bukanlah orang yang dominan dalam
organsasi, tetapi bagaimana dia bisa menganggap orang dalam sebuah organisasi
sebagai colega, tidak ada yang menonjol sendiri-sendiri, tidak unik yang
melebihi dari orang lain yang dapat berpikir sistem. Dalam konteks ini, maka
pemimpin menurut Senge,[6]
adalah sebagai designer, sebagai stewardess (pelayan), teacher, dan
kepemimpinan bersama (share leadership) setiap orang
bisa dilatih sebagai pemimpin.
Jika sudah dilatih sebagai pemimpin, setiap orang menjadi
pemimpin dan memiliki waktu, maka orang tersebut akan menunjukkan kemampuannya.
Hal ini dapat dianalogikan seperti filosofi Burung Angsa (geese) membentuk huruf V dalam bermigrasi ke suatu
tempat. Siapapun di depan atau di belakang semua konsistem ke tujuannya.
Regenerasi kepemimpinan berjalan dengan baik, berjalan demikratis, kolegial.
Oleh Marquardt[7],
organisasi belajar adalah bukan where tetapi which…learn powerfully….,
melihat dari sudut pandang proses… Sehingga organisasi belajar memberdayakan
orang-orang baik di dalam maupun di luar organisasi sambil bekerja. Marquardt
lebih mengarahkan model belajar oragisasi. Karakteristik organisasi belajar
menurut Marquardt, adalah: 1) belajar semua dan terus menerus; 2)
berpikir sistem; 3) akses informasi; 4) budaya kelembagaan positif; 5) aspirasi
dan koseptualisasi bersama; dan 6) menyesuaikan, memperbaharui dan meningkatkan
diri.
Organisasi belajar mulai belajar dari TOP
pimpinan TOP-DOWN. Setiap orang perlu belajar dari Organisasi Belajar, sehingga
diperlukan belajar dalam kelompok-kelompok yang belajar secara sistematis. Jika
hanya individunya saja yang belajar tetapi tidak ada belajar secara kelompok,
maka dipastikan bukanlah sebagai organisasi belajar. Organisasi belajar dapat
digambarkan sebagai berikut: individu → kelompok → organisasi terus-menerus.
Marquardt[8]
menyebutkan apa yang dikatakannya dengan Deutero Learning, yaitu belajar dan mengetahui apa
yang perlu dipelajari. Jika semua belajar secara terus menerus maka akan
terjadi belajar sepanjang hayat (life long learning),
maka organisasi tersebut akan substain, bertahan, berkembang dan bersaing.
Berpikir sistem menurut Marquardt bertujuan untuk menghilangkan egosentris,
tidak ada yang menonjol. Pandangan ini tentu saja lebih luas lagi dari apa yang
diungkapkan Senge.
Dengan
memperluas akses Informasi setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan
informasi-informasi, terbuka, open
management, karena informasi sangat penting maka jaringan informasi sangat
penting dalam organisasi belajar. Budaya Kelembagaan yang positif → budaya
berangkat dari prilaku menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi budaya. Iklim
organisasi akan sehat jika budayanya sehat dan positif. Misalkan karir
berdasarkan Merit Sistem → karir berdasarkan prestasi dan
kemampuan. Aspirasi dan konseptualisasi bersama → setiap orang bebas
mengemukakan asprisasinya. Setiapa orang dalam organisasi selalu berpikir untuk
lebih baik dari hari ke hari, terjadi jika ia belajar → model belajar.
Hal yang penting dalam membangun organisasi belajar adalah
komitmen bersama menjadi organisasi belajar. Dalam hal ini harus mendorong
birokarasi dan merampingkan struktur. Birokrasi à terkait dengan tugas dalam
fungsi, tatakelola organisasi belajar secara baik. Birokrasi tidak bagus jika
terjadi disfungsi sehingga tujuan tidak tercapai. Mendorong birokrasi menjadi
selayaknya dan merampingkan struktur artinya mengarahkan flat organisasi bukan tall organisasi, ahli dan mengetahui apa
yang dikerjakan. Hal yang penting adalah kooerdinasi dan monitoring.
Empowering → Memberikan pengetahuan,
kemampuan dan kesempatan belajar lebih lanjut dan memfasilitasi,
memberikan sumberdaya lain dalam memberdayakan skill yang dimiliki, dan
memberikan reward. Reward dalam hal ini tidak dalam bentuk uang financial atau
materi semata, tetapi idelaisme juga bisa dianggap reward. Dalam konteks ini,
maka pemimpin tidak harus lebih pintar dari anggota
organisasinya. Masing-masing organisasi memiliki nilai (value) dan ada kode etik dalam setiap organisasi dan
harus taat dengan kode etik tersebut. Jika tidak menjaga komitmen, maka mereka
telah melanggar kesepakatan. Tujuan adanya kode etik agar organisisi tersebut
mampu bersaing, dan berkembang serta survive.
Tujuan keberhasilan transpormasi untuk menjadi organisasi
belajar, adalah: 1) Membangun keinginan/kebutuhan kuat menjadi organisasi
belajar; 2) Membentuk koalisi yang kuat mendorong organisasi belajar bersinergi,
memadukan kesamaan antar organisasi diibaratkan seperti diagram venn (irisan) menggabungkan
kesamaan didalam perbedaan untuk menghasilkan kekuatan baru (added value); 3) Merumuskan visi organisasi belajar;
4) Mengemunikasikan dan mewujudkan visi; 5) Menyingkirkan hambatan-hambatan
yang menghalangi usaha-usaha mewujudkan visi baru organisasi belajar
(birokrasi, persaingan, kontrol, komunikasi, kepemimpinan, hirarki). Jika
birokrasi menghabat organisasi belajar maka birokrasi yang diperbaiki,
persaingan yang sehat, kontrol → tanggung jawab, komunikasi
→ komunikasi yang tidak bertanggungjawab (gosip), hierarki pembagian tugas
dan tanggung jawab; 6) Menciptakan hasil-hasil jangka pendek; 7)
Mengonsolidasikan kemajuan yang diperoleh dan dorong untuk terus maju; 8)
Menanamkan perubahan dalam budaya organisasi.
Yang bisa
dipelajari dalam organisasi, menurut Marquardt, , yaitu belajar berkomunikasi
secara terstruktur.[9]
Dengan
demikian hasil yang dicapai oleh suatu organisasi belajar (OB) dapat menjadi tolak
ukur maju mundurnya suatu prodi dalam mencapai Visi ,Misi, Tujuan serta Sasaran
dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai dengan tuntutan
tiga pilar perguruan tinggi yaitu :1.Pendidikan dan pengajaran 2.Penelitian dan
pengembangan, 3.Pengabdian kepada masyarakat,hal tersebut dapat dianalisis
dari, Learning Organization Profile di Salah satu Prodi LPTK. .
1.Pertanyaan yang ada dalam alat
ukur ini menggambarkan Dinamika
Belajar secara individu,kelompok/tim,dan organisasi dari fakta dilapangan
perolehan hanya 25 yang seharusnya total skrons 40 artinya keharusan
kedinamisan organisasi dipikirkan setiap individu tidak pernah puas dengan
pengetahuan yang dimilikinya sekarang ya belum memadai
untuk dirinya, kepuasan pelanggan dan tuntuntan stakeholder, jangan kita
merasa nyamam karena PTN perubahan begitu cepat terjadi perkembangan thenoklogi
dan komunikasi yang begitu pesat akibat dari tuntutan lingkungan. Diharapkan
dinamika belajar dari individu,tim dan organisasi memiliki kerendahan hati mau
belajar terus menerus dengan berpedoman pada;system thinking,mental model,
personal mastery, self – directeddan dialogue learning.
Pada organisasi tranformasi :
Visi,Budaya,Strategi dan Struktur
Perolehan score 23 sebenarnya ada kesalahan didalam
penyampaian saat perkuliahan mohon maaf sebelumnya Prof. Jika diamati
berdasarkan data perolehan organisasi transformasi pada aspek visi, pada saat
merumuskan hanya melibatkan beberapa
tenaga pengajar bahkan ada anggota organisasi yang tidak mengetahui visi dimana
dia bekerja tentu saja ini sangat ironis yang seharusnya menurut Marquat”stage
holder,manager, pegawai disemua tingkatan , tenaga pengajar, pelanggan
didesah untuk terlibat mengembangkan
visi”,sama pentingya dengan budaya organisasi yang ditandai dengan sejumlah
nilai –nilai yang mendorong organisasi menaiki tangga belajar dan harus mampu
memilki strutur organisasi yang memiliki karateristik strutural organisasi
belajar yang menunjukankan flesibilitas, keterbukaan, kesempatan mengembangkan
karir sehinga memungkinkan harus dengan strategi organisasi untuk mengubah
menjadi organisasi belajar.
Score pemeberdayaan masyarakat
manager, karywan, pelanggan, mitra pemasok dan masyarakat tidak jauh beda dengan aspek yang lain yakni
24. Organisasi belajar ini relatif memiliki jumlah mahasiswa cukup banyak dibanding prodi lain dalam satu fakultas namum
trik bagaimana untuk kerja sama untuk memajukan lembaga dengan adanya
pemberdayaan pegawai agar mempercepat dan memperlancar pekerjaan masik
kurang,di tingkat prodi tangguh jawab ketua sudah baik namum kendala memberi
peluang untuk memdapat informasi baru hal ini belum memuaskan dari atasan tingkat
fakultas
Untuk berbagi penggetahuaan dengan
pelanggan di dalam masik kurang apalagi keluar organisasi masik belum ada
jalinan kerja secara aktif mencari kerja sama dengan mitra tetapi lewat
individu ada beberapa staf pengajar yang melaksanakannya.
Score manajemen pengetahuan 24 tidak
jauh berbeda dengan aspek yang lainnya manajemen pengetahuan meliputi :Akuisisi,Penciptaan,Storage,Retrieval,Transfer
danPemanhfaatan
Organisasi harus belajar tahu bagaimana mengelola mekanisme
pengetahuan dari tingkat fakultas, prodi dan staf pegawai agar pelayanan pokok
terhadap mahasiswa yang berupa salah satu pelanggan organisasi diberikan
pelayanan akademik yang bermutu sesuai hasil skala penilaian masik banyak yang
harus di perbaiki seperti berpikir kreatif. Aktif mencari informasi, selalu
menciptan cara –cara baru /strategi yang inovatif serta berbagi pengetahuan
dengan departemen ,dinas. Masik banyak tenaga akademik belum memanfaatkan akses
internet sebagaii media komunikasi.
Skala pengukuran yang terakhir adalah,
aplikasi teknologi : Berupa sistem informasi
pengetahuan,Pembelajaran berbasis teknologi dan sistem pendukung Kinerja
Elektroni hal ini mendapat score yang tertinggi 34 hanya satu aspek yang
memperoleh score 1 yakni menatalaksanakan
proses-proses kelompok dan score 2 untuk pernyataan nomor 6 yakni
mengintergrasikan systim tehnologi, pelatihan, kerja aktual dalam sebuah proses
tunggal
Pada
akumulasi perolehan score menghasilkan grand total for five subsystem adalah
131 maximum score :200. Bila menggunakan 4(empat) interval kelas, maka angka
tersebut pada tingkat katagori baik.Namum bila dilihat lebih spesifik, maka
angka tersebut masuk pada tingkat Lower
Highest.
Dari
perolehan jumlah score di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Profil Organisasi
Belajar (learning organization profile) di prodi LPTK masuk pada tingkat
kualitas kategori 3 = applies to grea extent hal ini sangat perlu di waspadai untuk meningkatkan kinerja menuju lembaga organisasi belajar yang bermutu.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam rangka mengimplementasikan organisasi belajar dan
pengembangannya secara terintegrasi diperlukan analisis kebutuhan organisasi belajar
antara lain apa yang dibutuhkan
organisasi belajar, siapa yang membutuhkan, kompetensi apa yang ingin dicapai
serta bagaimana mengukur keberhasilan organisasi belajar. Hasil analisis profil organisasi belajar Prodi di LPTK Pada akumulasi perolehan score
menghasilkan grand total for five subsystem adalah 131 maximum score :200. Bila
menggunakan 4(empat) interval kelas, maka angka tersebut pada tingkat katagori
baik.Namum bila dilihat lebih spesifik, maka angka tersebut masuk pada tingkat Lower Highest
Berdasarkan perolehan data di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa profil organisasi belajar prodi di LPTK pada t.a masuk pada kategori;3 =applies to a great extent akan tetapi masik
banyak kekurangannya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program
proatif dan reaktif implementasinya, kemudian mengukur tingkat keberhasilan
serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belajar.
Peran dan tanggungjawab
pemimpin menjadi kunci keberhasilan bagi implementasi organisasi belajar dalam
keberhasilan belajar. Pada dasarnya belajar merupakan tanggungjawab semua
pihak, tetapi pemimpin dapat memberikan bantuan dengan menciptakan lingkungan
yang kondusif untuk mendorong pembelajaran bagi organisasi belajar.
B.
Saran
Saling
memperkuat upaya menciptakan organisasi yang senantiasa belajar bersama dalam
meningkatkan kinerja individu dan kelompok untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Sehingga organisasi selalu siap menghadapi segala tantangan dan perubahan yang
terjadi dalam lingkungannya, bahkan mampu mengantisipasi kemungkinan perubahan
yang akan terjadi. Kemampuan ini akan membuat organisasi semakin tangguh dan
selalu berkembang, serta mampu bersaing dalam segala situasi
DAFTAR PUSTAKA
Marquardt, Michael J. Building The Learning
Organization. Palo Alto CA: Davies-Black Publishing, Inc.2002
Senge, Peter M. The Fifh Discipline The Art and
Practice of The Learning Organizatin. New
York: Bantam Doubleday Dell Publishing Group, Inc.1994
Yusufhadi
Miarso, Peran Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi
Belajar, Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional
Teknologi Pembelajaran, Jakarta, 2002
Zainuddin,
Pedoman Sertifikasi Pendidik Bagi Dosen 2010, Bumi
Aksara,Jakarta,2010
[1] Senge, Peter M. The Fifh Discipline The Art and Practice of The Learning
Organizatin. New York: Bantam Doubleday Dell
Publishing Group, Inc.1994
[2] Marquardt, Michael J. Building The Learning
Organization. Palo Alto CA: Davies-Black Publishing, Inc.2002
[3]
Yusufhadi Miarso, Peran
Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar, Makalah
yang disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran, Jakarta, 2002
[4]
Senge, Peter ,Op.Cit
[5]
Marquardt, Michael J,Op.Cit
[6] Senge, Peter ,Op.Cit
[7]
Marquardt, Michael J,Op.Cit
[8] ibid
[9] ibid